Ngaben Ditengah Pandemi Corona Jadi Tontonan Menarik di Sudaji

9690
Situasi puncak upacara Ngaben Dadia Kubayan di Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Jumat (1/5) pukul 11.00 siang.

SINGARAJA, radardewata.com — Puncak upacara Ngaben Dadia Kubayan di Desa Adat Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, yang digelar pada Jumat (1/5) jadi tontonan menarik warga setempat.

Informasi dihimpun, Ngaben Dadia Kubayan memakai bade atau wadah setinggi kurang lebih tujuh (7) meter dan diikuti 7 sawa (mayat sudah dikubur dibongkar kembali).

 

Situasi upacara Ngaben Dadia Pasek di Setra Barat Desa Adat Sudaji.

Sejatinya, tak hanya Dadia Kubayan di Banjar Desa melaksanakan puncak upacara Ngaben, masih ada satu dadia lain di Banjar Singkung, Desa Sudaji juga menggelar Ngaben diikuti oleh 10 sawa. Puncak acaranya kedua dadia itupun bersamaan pada Jumat (1/5). Bedanya, Dadia Kubayan memakai Setra (kuburan) Tengah, sedangkan Dadia Pasek di Setra Barat, tepatnya sebelah barat lapangan umum Desa Sudaji.

Pantauan di lokasi, penonton mulai anak-anak, remaja hingga dewasa nampak berjubel di beberapa titik lokasi. Mereka menonton prosesi sakral itu dari lantai dua Pasar Tradisional Sudaji juga seputaran Pura Dalem. Pun kerumunan warga yang menonton dari pertokoan di sepanjang ruas jalan Desa Sudaji berstatus jalan kabupaten.

Tak pelak, situasi ini membuat sejumlah aparat TNI dan Polisi memeras otak menghimbau, bahkan menghalau penonton yang tumpah ruah agar tidak berkerumun menyaksikan puncak acara Ngaben yang dilaksanakan ditengah upaya pemerintah menekan pandemi penyebaran wabah virus Corona (Covid-19). Petugas hansip dan pecalang juga dibuat tak berkutik.

Sebelum bade dijalankan, puluhan orang mengikuti prosesi Ngaben di lokasi upacara, dimana lokasi itu, persisnya terletak di depan Pura Desa Sudaji.

Nah, saat hentakan tabuh berbunyi pertanda bade dijalankan, situasi pun mulai tak terkendali. Lautan manusia berbaur terkesan mengabaikan protokol kesehatan penanganan virus Corona. Bade diusung lebih dari 25 orang yang kompak mengenakan baju kaos berwarna kuning.

Tak hanya itu, jubelan orang dari keluarga Dadia Kubayan tak terhindarkan saat prosesi Nyumbah (sujud) di depan Pura Dalem Sudaji. Itu terjadi saat bade diangkat oleh pengusung, puluhan anggota keluarga Dadia Kubayan, baik anak-anak, remaja dan dewasa putra dan putri berhamburan masuk mengitari bade, sebelum akhirnya bade diusung menuju Setra Tengah Desa Adat Sudaji.

Terpisah, Bendesa (Kelian) Adat Desa Sudaji Nyoman Sunuada SH menjelaskan, upacara Ngaben mulanya akan dilaksanakan oleh tiga dadia, yakni Dadia Tangkas di Banjar Kaja Kangin, Dadia Pasek di Banjar Singkung dan Dadia Kubayan di Banjar Desa.

“Dadia Tangkas memilih batal, karena sawa-nya terlalu banyak, 27 sawa. Kalau sawa sudah (dadia Tangkas) melebihi, jika dikali dua (27 sawa) sudah 50 lebih, sedangkan batasannya kan 25 orang dilibatkan. Dadia Pasek 10 sawa dan Dadia Kubayan 7 sawa. Setranya berbeda, Dadia Kubayan di setra tengah, Dadia Pasek di Setra Barat depan lapangan Sudaji,” ungkap Bendesa Sunuada, belum lama ini.

Bendesa Sunuada menegaskan, bahwa pihaknya tidak pernah memberikan izin ataupun mengeluarkan larangan jika kramanya menggelar upacara Ngaben ditengah pandemi wabah virus Corona.

Lalu, apa dasar tetap dilaksanakannya Ngaben ditengah pandemi wabah virus Corona?

Pria yang sudah 31 tahun menjabat kelian desa adat Sudaji itu menyebut, dalam surat edaran (SE) himbauan Gubernur Bali, Wayan Koster memang disebutkan upacara Ngaben Ngewangun ditiadakan. Namun, ada masukan dari krama dalam SE Gubernur Bali pada nomor 7 poin c.

“Kan ada SE Gubernur Bali nomor 1 sampai 7. Lalu pada nomor 7 ada point a, b, dan c. Kemudian ketika ditelaah dengan seksama nyelepit nomor 7 c berbunyi, kalau upacara Ngaben tidak bisa ditunda, bisa dilaksanakan tapi tetap terbatas. Itulah dijadikan pertimbangan pelaksanaan Ngaben Dadia Kubayan dan Dadia Pasek puncak acaranya 1 Mei 2020. Ya, saya dan prajuru tidak berhak menutup jalannya upacara, kami tidak berani. Ya, karena bunyi himbauan di nomor 7 c itu,” terangnya.

Menurutnya, himbauan dan pengawasan dari satgas covid-19 Sudaji telah dijalankan, dimana pihaknya membatasi jumlah krama yang ikut dalam pelaksanaan puncak upacara Ngaben di Dadia Kubayan dan Dadia Pasek.

Tak sampai disitu, Bendesa Sunuada mengaku, sudah melakukan kordinasi dengan pemerintah desa dinas Sudaji serta meminta bantuan aparat keamanan untuk menghalau penonton agar tidak terjadi kerumunan massa di puncak upacara Ngaben tersebut.

“Himbauan wajib pakai masker dan cuci tangan terus kami lakukan, juga ada petugas satgas desa adat Sudaji melakukan pengawasan langsung di lokasi ngaben. Antisipasi penonton, kami minta bantuan Polsek dan Koramil agar tidak ada kerumunan massa menonton puncak upacara ngaben. Kalau penonton bengkung (bandel) kami minta kepada aparat agar langsung dibubarkan,” jelasnya.

Bendesa Sunuada merinci, keterlibatan Ngaben di Dadia Kubayan dan Dadia Pasek dibatasi. Khusus di Dadia Kubayan merupakan keluarga penyarikan (sekretaris adat) dilibatkan 34 orang, diantaranya sekeha tabuh gong gender 2 orang, lalu ada 2 orang keluarga dadia Kubayan diatas bade. Pengusung bade atau wadah 20 orang, tali penandanan bade 10 orang diatur jaraknya 1 sampai 1,5 meter menggunakan tali penandanan 50 meter.

“Soal kerumunan masyararakat yang menonton saya tidak berani jamin. Boleh nonton, tapi dari rumah masing-masing, jangan berkerumun di jalan. Soal krama dadia Kubayan ikut dalam Ngaben diatur dadianya. Sudah saya tegaskan jika tidak bisa mengikuti himbauan pemerintan jaga jarak dan membatasi orang ikut ngaben lebih baik mundur atau membatalkan upacara ngaben,” tuturnya.

Bendesa Sunuada pun tak menampik meski sudah dihimbau dan diawasi masih saja ada oknum krama dadia ikut Ngaben melakukan pelanggaran.

“Gimana ya, posisi saya dilematis selaku bendesa. Kadang memang ada saja krama yang bengkung. Kalau tidak ada masukan surat himbauan nomor 7 c itu, pasti sudah kami larang,” tutupnya.