Demam Berdarah Renggut Nyawa Pelajar SD di Sudaji

11989
Gede Edi Arta dan istri Ketut Sariasih memegang foto almarhumah Komang Sri Wahyuni didampingi Kadus Dukuh, Gede Sarjana.

SINGARAJA, radardewata.com —  Seorang pelajar Komang Sri Wahyuni (12) asal Banjar Dukuh, Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue (DBD). Gadis belia masih duduk di kelas VI SD Negeri 2 Sudaji meninggal, setelah menjalani perawatan intensif selama dua hari di ruang ICU RSUD Buleleng,

Sri merupakan putri ketiga dari empat bersaudara pasangan suami istri (pasutri) Gede Edi Arta (45) dan istri Ketut Sariasih (42). Sri meninggal dunia pada Minggu (26/4) sekitar pukul 18.20 malam.

Pantauan, tidak banyak pelayat yang datang ke rumah duka seiring himbauan pemerintah menekan penyebaran virus Corona (Covid-19).

Edi menuturkan, Sri awalnya mengalami demam pada Minggu (19/4). Kemudian diperiksakan ke bidan desa setempat. Keesokan hari, Sri mendadak demam tinggi, lalu dibawa berobat ke salah satu dokter di Kota Singaraja.

Pria yang sehari-hari bekerja sopir lintas Jawa-Bali mengaku awalnya tak terlalu menganggap serius demam itu. Edi tak tahu jika demam dialami Sri adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dalam hitungan hari bakal merenggut kehidupan putri ketiganya tersebut.

Apa yang tak pernah terbersit dalam benak Edi pun akhirnya terjadi. Sepulang dari dokter, kondisi kesehatan Sri turun drastis.

“Kondisi kesehatannya terus menurun. Susah menelan makanan, masuk mulut dikeluarkan lagi. Obatnya juga gitu,” ungkap Edi di rumah duka, Senin (27/4).

Demam tinggi dialami Sri tak kunjung turun membuat keluarga panik, hingga diputuskan melarikan Sri ke RS Parama Sidhi Singaraja, pada Kamis (23/4) pagi.

“Sampai disana langsung cek darah, cek lab dan rotgen, dan hasilnya gejala demam berdarah. Trombositnya rendah, katanya 74,” terangnya.

Kekhawatiran keluarga kian menjadi, saat tim medis RS Parama Sidhi memberitahukan bahwa trombosit Sri kembali turun dan harus segera dirujuk ke RSUD Buleleng.

“Cuma satu hari dirawat di RS Parama Sidhi, trombosit Sri awalnya 74 turun sampai 16. Anak saya (Sri) kondisinya sudah lemas saat dirujuk ke RSUD Buleleng pada Jumat (24/4) sore,” imbuhnya.

Kondisi Sri pun kian memburuk menjalani selama dua hari menjalani perawatan di ruang ICU RSUD Buleleng. Sebelum meninggal, Sri dikenal ceria, mengulum senyuman kepada orangtuanya.

“Tidak ada pesan apapun dari Sri sebelum meninggal, hanya menunjukkan senyum kepada kami. Selama sakit, memang agak manja. Sri minta dibelikan makanan burger, minuman pocari, buavita. Ya, asal minta apa saja, pasti berusaha saya penuhi,” tutupnya.

Menurut rencana, jenazah Sri akan dikuburkan di setra (kuburan) Desa Sudaji, pada Selasa (28/4).